/*MENU ATAS*/
/*MENU ATAS*/

Apr 29, 2011

2

Gedung Kebanggaan Untuk Segala Tujuan

Obyek Wisata : Petronas Twin Tower/Suria KLCC Lokasi : Kuala Lumpur, Malaysia

Petronas Twin Tower/KLCC

di dalam KLCC

sore hari KLCC Park


KLCC Park

air mancur menari

kolam renang


simulasi gunung meletus

miniatur di Petrosains

salah satu alat peraga


KLCC Park

Suria KLCC

Petrosains


Rasanya tak perlu dipertanyakan lagi kenapa Petronas Twin Tower menjadi landmark kebanggaan Malaysia. Karena sampai kini masih tercatat dalam rekor dunia sebagai gedung kembar tertinggi dan pernah tercatat dalam sejarah sebagai gedung tertinggi di dunia. Belum ke Kuala Lumpur atau Malaysia rasanya kalau belum datang kesini meskipun hanya sekedar berkeliling Mal Suria KLCC-nya saja. Pengalaman yang dicari tentu saja adalah untuk naik ke atas jembatan penghubung Petronas Twin Tower yang terletak di lantai 41 dan 42. Jembatan (skybridge) ini juga tercatat dalam rekor dunia sebagai yang tertinggi dalam kategori jembatan penghubung (2 tingkat) antar gedung. Semua pengunjung KLCC boleh ikut tur naik ke atas jembatan tersebut, tapi ada beberapa ketentuan yang diterapkan seperti harga tiket dan paketnya, jam operasional dan aturan-aturan lainnya. Untuk updatenya lebih baik langsung klik saja website resminya di http://www.petronastwintowers.com.my/. Aku sendiri belum pernah naik ke atas skybridge Petronas Twin Tower, tapi dari informasi yang aku dapatkan mengatakan kita perlu datang dari pagi hari, beberapa jam sebelum loket dibuka karena minat pengunjung sangat banyak jadi perlu antri. Untuk sampai ke Petronas Twin Tower caranya gampang banget, karena cukup naik LRT jalur Kelana Jaya (Putra LRT) sudah bisa langsung turun di stasiun KLCC yang ada di basemen.


Sebenarnya tidak adil juga untuk membandingkan karena aku belum pernah naik ke skybridge Petronas Twin Tower, tapi sampai saat ini menurutku bagian paling menyenangkan justru berada di luar Petronas Twin Tower didalam area hijaunya (KLCC Park). Di lahan hijau yang luas itu terdapat kolam dengan air mancur menari, jogging track, kolam renang dengan pepohonan yang rindang nan hijau. Ketika kaki lelah berkeliling mal kita jadi bisa punya alternatif lain untuk sekedar santai-santai tanpa perlu mencari “medan selera”/foodcourt, cafe atau restoran. Atau memang tidak punya niat untuk belanja tapi cuma mau duduk-duduk saja itupun tak dilarang. Tapi kalau ngga punya niat untuk jogging jangan coba-coba berjalan di area jogging track, prittttttttt........bunyi peluit dari securitynya bukan cuma bikin telinga berdengung tapi dijamin bikin kaget.

Meskipun main ke mal seringkali bikin bosan, karena di dalamnya ya kurang lebih itu-itu saja tapi kalau ke Suria KLCC di Petronas Twin Tower setidaknya kita bisa punya alternatif lain. Yang pertama ya kayak tadi aku tulis, bisa cuma iseng nongkrong-nongrong di KLCC Park. Selebihnya kalau pergi bareng keluarga dan anak-anak bisa mengajak mereka main ke Petrosains. Petrosains ini semacam museum ilmu pengetahuan dan teknologi lengkap dengan alat-alat peraganya. Yang diceritakan dan diperagakan bisa seputar kejadian tentang peristiwa alam seperti gempa bumi (lengkap dengan goncangannya lho!) atau mencoba mengendarai helikopter (ini juga lengkap dengan getarannya!). Untuk info lengkap harga tiket dan program-program lainnya klik saja http://www.petrosains.com.my/. Buat yang suka lihat ikan juga bisa mampir ke http://www.klaquaria.com/, tapi disini kurang lebih mirip sama seaworld yang ada di Ancol. Jadi aku sendiri lebih milih ke Petrosains, biarin deh meskipun udah ngga lagi anak-anak. (Ge)


Read more...

Apr 28, 2011

0

Diantara Barang-Barang Palsu dan Citarasa Kuliner yang Asli Enaknya

Obyek Wisata : Petaling Street (China Town) Lokasi : Kuala Lumpur, Malaysia

petaling street di pagi hari

masih lengang

mulai rame di malam hari


pejalan kaki hilir mudik

penjual sepatu ada

penjual buah juga ada


penjual tas juga banyak

sudut hong leong bank

masih bisa jalan di tengah


sudut hong leong bank

grosir bunga dan suvenir

monorail ke Petaling Street


susu kacang emang segerrr

kacang chestnut

martabak nyam nyam...


seafood siap saji

deretan meja

pedagang siap-siap


sate-satean untuk steamboat

ayam, bebek dan b2

nihh macem-macem satenya


mie goreng b2

mie goreng ayam

sate daging rusa


hop on hop off

trotoar bersih

kue kering

silau neon


chinese f. resto

sudut petaling

dekorasi lampion

jalan senggolan


Bermodalkan tiket murah dari maskapai penerbangan yang asalnya sama dengan negara tujuan liburanku kali ini akhirnya aku menginjakan kaki di Kuala Lumpur. Dan sampai dengan saat aku menulis dan memposting tulisan pengalaman liburan ke Malaysia ini, terhitung sudah dua kali aku bisa mendapatkan tiket murah untuk pulang-pergi dan masih ingin kembali kesana lagi rasanya kalau aku tidak memikirkan masih banyak tempat-tempat lain yang belum dieksplor baik dalam maupun luar negeri. Segala informasi dan itinerary perjalanan sudah aku siapkan dari Jakarta termasuk hotel, pilihanku jatuh pada salah satu hotel di kawasan China Town atau lebih dikenal dengan nama Petaling Street meskipun banyak orang dan informasi yang aku dapatkan mengatakan Bukit Bintang sebagai lokasi terbaik untuk menginap di Kuala Lumpur karena disana terdapat beragam kelas hotel, terkenal sebagai pusat perbelanjaan dan pusat kedai makan khas Malaysia.


Salah satu keunggulan Air Asia selain sering promo tiket murah juga adanya layanan bus dari terminal LCCT menuju KL Sentral, tiketnya seharga RM9 bahkan bisa dibeli saat kita sedang ada di udara melalui mba-mba pramugarinya yang cantik. Ketika tiba di KL Sentral setelah 1 jam perjalanan dari LCCT langsung bingung deh terus gimana ini, maklum siapa yang ngga bingung kalau baru pertama kali pergi? Akhirnya waktu itu jalan aja ngikutin orang-orang yang keluar dari KL Sentral sampai akhirnya nemu stasiun LRT Tun Sambathan. Nanya sama petugas keamanan disitu akhirnya disuruh beli tiket sampai ke stasiun Maharajalela, dan dari situ jalan kaki kurang lebih 300 meter untuk bisa sampai hotel di Petaling Street. Besok-besoknya baru tahu ternyata dari KL Sentral ngga perlu jalan kaki sampai stasiun Tun Sambathan untuk menuju Petaling Street, dari KL Sentral cukup naik eskalator saja, masuk ke dalam terus naik LRT jalur Kelana Jaya dan turun di Stasiun Pasar Seni, cukup satu stop. Tapi kalau untuk jalan kakinya untuk sampai ke Petaling Street ya kurang lebih sama aja sih jaraknya, mau dari stasiun Maharajalela atau Pasar Seni.

Waktu pertama sampai di Petaling Street hati tersentak kaget, tapi kaget dalam artian positif atau cenderung excited gitulah. Kalau sekilas melihat Petaling Street ini pikiran jadi melayang pulang ke Jakarta karena kurang lebih mirip kayak Pasar Baru. Ada gapuranya gede di depan, terus pertokoan di kiri-kanan plus kanopi di atas yang menaungi pejalan walaupun bolong-bolong. Yang berbeda hanyalah deretan lapak-lapak pedagang kaki lima dengan kios semi permanen di depan pertokoan tersebut. Rata-rata pertokoan yang ada disini telah dimiliki secara turun temurun begitu juga pertokoan yang ada di sekitar Petaling Street, arsitektur pertokoan yang kuno dan dipengaruhi gaya-gaya Eropa mencirikan hal tersebut. Apa benar hotelku ada di tengah-tengah pertokoan dan pedagang lapak di Petaling Street? Dan menariknya memang itu benar, setelah check in hotel, liburanku di Kuala Lumpur pun dimulai. Tempat pertama yang aku tuju adalah Sri Maha Mariamman Temple yang terletak hanya selisih satu blok saja, dari jendela hotelku bahkan Gopuramnya (pintu gapura) saja sudah terlihat. Meski disebut sebagai China Town tapi ternyata Petaling Street tidak hanya didominasi oleh kaum Chinese tapi mereka para imigran India pun ternyata juga banyak terlihat berlalu lalang disini. Rasa lapar yang menyerang menyudahi kunjunganku di Sri Maha Mariamman Temple. Kebingungan untuk mencari tempat makan menuntunku masuk ke sebuah restoran waralaba, McDonalds. Setiap orang pasti akan bertanya-tanya, pergi jauh-jauh koq makannya McD, di Jakarta juga ada itu sih. Eiittsss! Jangan salah, meski restoran waralaba yang secara kualitas distandarkan tetapi soal rasa tetap ada perbedaan. Kalau ayamnya ya ngga terlalu beda jauh lah, tapi yang unik adalah nasinya. Nasinya bukan sekedar nasi putih, tapi warnanya agak kekuningan dan gurih rasanya, mungkin lebih mirip kayak nasi uduk ya kalau di Jakarta. Dan tambahan 3 potong timunnya itu lho yang ngga kalah unik, belum pernah kan ngerasain ayam goreng McDonalds pakai lalapan timun. Hujan deras yang tiba-tiba datang membuatku cukup lama tertahan di dalam restoran tersebut. Dan yang lebih ngga enaknya ikut merubah jadwal perjalanan hari pertama yang sudah aku susun. Akhirnya perjalanan aku lanjutkan menuju KL Tower dan setelah itu menyambung dengan berjalan kaki menuju Suria KLCC atau Petronas Tower.

Perasaan kaget yang cenderung excited saat tadi siang sesampainya di Petaling Street ternyata belum ada apa-apanya ketika aku pulang ke hotel dari Suria KLCC menjelang jam 9 malam. Jalanan di tengah-tengah yang tadinya masih bisa dilewati mobil walau hanya sesekali kini berubah total, lapak-lapak pedagang memenuhi segala ruas jalan yang ada di tengah, yang bahkan seorang pejalan kaki pun akan kesulitan melintas ketika berpapasan satu sama lainnya. Kalau mau dibayangin kurang lebih ya mirip sama trotoar jalan Malioboro di Yogjakarta waktu musim liburan, sesek dan sumpek. Rasa capek yang tadinya menyerang berangsur menghilang melihat keramaian itu, akhirnya yang tujuan semula mau langsung pulang ke hotel pun berubah. Lumayan lah masih ada waktu kurang lebih 3 jam untuk muter-muter Petaling Street sebelum para pedagang ini berbenah.

Petaling Street memang dikenal sebagai salah satu lokasi wisata yang menawarkan barang-barang berharga murah tapi jangan lupa ya, palsu! Beragam barang banyak dijual disini mulai dari souvenir gantungan kunci, kaos, jam tangan, tas, cd, dll. Kelihaian dalam tawar menawar merupakan keterampilan yang wajib dimiliki kalau mau belanja disini, tapi jangan lupa kesabaran dan fisik yang prima juga harus ada. Sebelum tawar menawar, ada baiknya bertanya ke pedagang-pedagang lain soal harga barang yang mau dibeli karena meskipun banyak barang yang dijual di Petaling Street sebenarnya secara umum jenisnya sama saja, itu kalo mau benar-benar mau dapat harga termurah. Cuma kalau dari yang aku perhatikan sebenarnya juga ngga murah-murah banget koq, mungkin murah untuk ukuran turis-turis Amerika atau Eropa sana yang kurs mata uangnya diatas Ringgit. Lagian kalau mau cari barang-barang seperti yang ada di Petaling Street, di Jakarta sendiri ngga kalah lengkap koq, sebut saja Mangga Dua, Glodok, Tanah Abang sampe ITC disini juga pasti ada.

Puas cuci mata sekarang tiba saatnya memuaskan perut. Bukan tanpa alasan tadi ngga makan malam di Suria KLCC, kaki yang mulai pegal-pegal dan stamina yang menurun membuatku cuma ingin cepat-cepat sampai di hotel dan tidur. Tapi setelah berjalan bolak-balik mondar-mandir di Petaling Street rasa lapar itu pun muncul. Susu kacang di sudut seberang Hong Leong Bank menjadi menu pembuka yang menyegarkan tenggorokan. Selain sebagai tempat belanja murah, Petaling Street dikenal sebagai pusat kedai makan yang terkenal di Kuala Lumpur, nah yang ini memang perlu dicoba. Sekitar 50 meter dari Hong Leong Bank berjalan menuju Jalan Sultan berdiri banyak kedai-kedai makan yang berdiri di pinggir jalan. Tepat di ujung pertigaan sebelum Jalan Sultan di kiri kanan juga terdapat restoran seafood dan beragam masakan Chinese lainnya. Restoran dengan meja bulat yang berada di luar dikelilingi kursi-kursi plastik itu menjadi tempat makan favorit untuk bule-bule sepertinya. Di depan Hong Leong Bank sendiri juga ada tempat makan seafood yang enak, tapi jangan bingung kalau yang keliatan cuma lapak pedagang, soalnya memang ketutupan, coba aja cari celah diantara lapak-lapak itu untuk masuk kedalamnya.

Favoritku sendiri untuk di Petaling Street adalah steamboat yang isinya bisa kita pilih sendiri dari mulai tahu, bakso, ayam, udang, dll plus sayur-sayuran ditambah beberapa tusuk sate daging rusak yang dibakar. Semuanya dijual dalam bentuk satu tusuk umumnya dan rata-rata satu tusuk seharga RM3 kurang lebihnya, kecuali sayur yang ditempatkan dalam sebuah baskom. Untuk yang rebusan semuanya kita masak sendiri, dicemplung-cemplungin ke dalam air yang mendidih, rasanya memang tawar sih karena kuah rebusannya sendiri sepertinya juga tanpa kaldu. Untuk penggugah selera, kuncinya ada pada sambalnya, disitu kita dikasih 3 jenis sambal, tinggal dicampur-campur sendiri terus nyam...nyam....nyam....Selain steamboat di sebelahnya juga ada yang jual mie, nasi claypot dan seafood. Semuanya enak-enak, tapi bagi yang memiliki larangan makan daging non halal ada baiknya bertanya terlebih dulu. Sebelum pulang ke hotel masih ada beberapa makanan cemilan yang bisa dibawa, martabak atau kacang chestnut pasti mantablahhh walaupun setelah makan kacang chestnut meninggalkan sedikit cemong di tangan dan bibir. Beberapa menu makanan rada-rada mirip dengan yang dijual di Indonesia, kayak mie goreng atau mie yamin, cuma kadang namanya aja yang beda, susah euy kalau mau dingat-ingat lagi. Soal rasa? Nah itu yang paling gampang diingat tapi susahnya selalu bikin liur netes setiap kali dingat-ingat...slurrpppp...ahhhhhh. (Ge)


Read more...

0

Sempat Jadi yang Tertinggi Pertama di Malaysia

Obyek wisata : Menara KL/KL Tower Lokasi : Bukit Nanas, Kuala Lumpur-Malaysia

pintu masuk

shuttle car gratis

antri masuk lift


banner depavali

mengandung nilai keIslaman

suasana observation deck


fakta menara tertinggi dunia

Petronas Twin Tower

danau titiwangsa


batu caves

animal zone

Malaysia Cultural Village


jembatan gantung

salah satu rumah adat

main congklak


tingginyaaa..

mp5 player

observation deck

ngintip dulu ahh


twin tower

twin tower

suvenir

pony ride


Selama ini sudah pasti banyak orang yang mengenal Petronas Twin Tower (KLCC) di Kuala Lumpur, Malaysia sebagai salah satu gedung tertinggi di dunia. Tapi selain Petronas Twin Tower, Malaysia sebenarnya masih memiliki satu bangunan lagi yang tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di dunia yaitu Menara KL untuk kategori menara (telekomunikasi). Menara KL inilah yang justru diresmikan terlebih dahulu pada tahun 1996 sebelum kemudian Petronas Twin Tower menyusul pada tahun 1999. Menara KL yang bentuk bangunannya mengandung nilai unsur-unsur keIslaman ini terletak di tengah-tengah Bukit Nanas, Bukit Nanas sendiri diklaim sebagai satu-satunya hutan tertua di dunia yang letaknya berada di tengah kota. Tapi meskipun disebut sebagai hutan kota tak perlulah takut, karena bukan berarti didalamnya ada hewan-hewan buas, yang bisa kita temukan disini adalah jenis-jenis serangga, tupai, burung dan pohon-pohon tua.


Untuk menuju Menara KL bisa dicapai dengan monorail jalur Kelana Jaya (Putra LRT) lalu turun di stasiun Dang Wangi atau jalur KL Monorail turun di stasiun Bukit Nanas. Dari dua stasiun itu untuk sampai ke pintu masuk Menara KL jaraknya masih cukup lumayan, mungkin sekitar 500 meteran, ngga perlu jalan cepat-cepat, nikmati aja jalan kakinya. Kalau males capek, taksi bisa jadi pilihan. Letak Menara KL memang di tengah-tengah hutan kota Bukit Nanas, ketika aku menulis kata Bukit Nanas, memang ini benar-benar sebuah bukit tapi nanasnya ngga. Jadi perlu perjuangan berat, baju basah oleh keringat dan kaki pegal-pegal untuk bisa sampai ke Menara KL. Tapi tenang aja, itu cuma buat mereka yang suka jalan kaki atau yang mau menikmati suasana Bukit Nanas. Buat yang ngga mau capek, di pintu masuk disediakan shuttle car gratis yang akan membawa kamu ke atas sampai lobi Menara KL, enak khan!

Sampai di lobi Menara KL kamu bisa langsung masuk dan beli tiketnya di counter yang ada di sebelah kanan. Untuk tiket biasanya dibundling jadi satu paket sama wahana-wahana yang lain, jadi ngga bisa beli tiket hanya untuk observation deck-nya saja. Wahana lain yang ada di Menara KL yang paling diminati biasanya F1 simulator, selain itu ada beberapa lainnya Pony Ride (menunggang kuda), Malaysia Cultural Village, Forest in the City, Animal Zone, dll. Untuk lebih lengkap dan update tentang harga tiket, paket-paketnya dan berbagai fasilitas lainnya bisa langsung cek saja di websitenya http://www.kltower.com.my/ karena waktu aku sedang nulis ini sepertinya sudah berubah harga dan paketnya dari yang waktu November 2010 aku kesana.

Beli tiket sudah, sekarang saatnya naik lift untuk menuju ke observation deck, uppsss tapi ternyata perlu antri dulu ya. Meski antrian panjang tapi ternyata bisa tetap berjalan lancar dan ngga perlu waktu lama untuk masuk ke dalam lift ekspres yang membawa kita ke ketinggian hampir 280 meter menuju observation deck. Begitu keluar lift ehhh ternyata antri lagi, kali ini harus antri untuk dibagikan mp5 player yang isinya informasi seluk beluk Menara KL dengan berbagai bahasa yang bisa kita pilih. Observation deck ini merupakan tempat bagi para pengunjung untuk bisa mengamati kota Kuala Lumpur dari atas ketinggian. Bentuk observation deck yang melingkar dan dinding-dinding luarnya terbuat dari kaca membuat kita bisa mengamati kota Kuala Lumpur dari berbagai arah. Di dalamnya terdapat beberapa titik pemberhentian dimana di setiap titik terdapat keterangan diatasnya yang tertempel di plafon yang menjelaskan view-view apa saja yang bisa kita lihat dari situ. Apakah itu batu caves yang letaknya kurang lebih 13 km jauhnya, Petronas Twin Tower, National Mosque, dan lain sebagainya. Waktu terbaik untuk ke observation deck menurutku ketika sore menjelang malam. Terutama view yang menghadap ke arah Petronas Twin Tower, lampunya yang putih menyilaukan dengan latar belakang lampu gedung-gedung lain disekitarnya dan langit yang berwarna biru pekat menjadi pemandangan yang mengagumkan. Tapi karena jam masih menunjukan pukul 4 maka aku sendiri memutuskan untuk segera turun, apalagi waktu Kuala Lumpur lebih cepat satu jam daripada Jakarta, malam gelap biasanya baru turun saat jam 19.30 WIB jadi bakalan membuang banyak waktu kalau mau menunggu.

Tiket yang kubeli menjadi satu paket antara Observation Deck dan Malaysia Cultural Village. Jadi waktu sampai di bawah cukup menunjukan tiket ke petugas Malaysia Cultural Village dan aku pun masuk dengan leluasa kedalamnya. Kalau mau jujur sebenarnya daya tarik utama Menara KL ya observation deck-nya itu saja. Yang kedua menurutku F1 Simulator, tapi tiketnya saja sudah cukup mahal untuk paket observation deck+Malaysia Cultural Village jadi rencana mau naik F1 Simulator terpaksa ditunda dulu untuk lain kali. Malaysia Cultural Village secara umum menampilkan beragam replika rumah adat Malaysia, tapi mungkin pada waktu-waktu tertentu diadakan event-event yang bersifat tradisional. Cuma waktu itu memang lagi ngga ada acara apa apa, jadi cuma nengok rumah-rumah adat Malaysia saja, sedikit ngga worthed sebenarnya sih tapi mau gimana lagi karena itu sudah paket yang paling murah. Kalau mesti nambah harga untuk naik Pony Ride (menunggang kuda) atau animal zone sih kayaknya ngga lah ya, soalnya di Jakarta sendiri juga banyak tempat-tempat kayak gitu. Secara umum kalau mau datang ke Menara KL sih ya boleh-boleh saja, untuk memuaskan rasa ingin tahu. Kalau datangnya bersama teman-teman, ya masih bisa dipaksain lah untuk beli tiketnya karena bayarnya masing-masing, tapi kalau perginya sekeluarga dan disuruh bayarin semuanya, kayaknya sih perlu dipikir-pikir dulu ya karena harga tiketnya yang mahal. (Ge)


Read more...