/*MENU ATAS*/
/*MENU ATAS*/

Nov 26, 2010

Simpan yang Terbaik Untuk Terakhir

Objek Wisata : Gu Lang Yu Lokasi : Xiamen, China

view dibalik jendela hotel

di depan hotel

halte depan hotel


dermaga xiamen

di dalam kapal

dermaga Gu Lang Yu


mobil listrik : alat transportasi

denah Gu Lang Yu

Shuzuang Garden


Shuzuang Garden

Shuzuang Garden

Shuzuang Garden


Shuzuang Garden

dibelakang : Riguang Rock

Shuzuang Garden


maap...lupa namanya :d...

naik kapal. kembali ke xiamen

bangunan bernuansa eropa


air mancur. lagi ga nyala hehe

patung dewi Kwan Im

dibalik pulau itu Taiwan...


menuju bus

depan resto

dermaga Gu Lang Yu

menuju Gu Lang Yu


Xiamen

Riguang Rock

Shuzuang Garden

Shuzuang Garden


Shuzuang Garden

rehat...nunggu mobil

Museum Piano

patung lari


Beijing, Shanghai, Suzhou dan Hangzhou meninggalkan banyak kesan yang luar biasa dalam perjalanan liburanku di China. Tapi kesan akan liburanku yang luar biasa di China menjadi lebih lengkap ketika ditutup dengan berwisata di Pulau Gulangyu, Xiamen. Taifun yang membawa angin dan hujan lebat sepanjang hari di Hangzhou membuat pesawat yang akan membawaku menuju Xiamen mengalami delay hingga 4 jam. Sehingga rencana untuk berbelanja di Zhong Shan Rd, Xiamen batal karena waktu sudah menunjukan jam 8 malam ketika rombonganku menginjakan kaki di Xiamen International Airport. Waktu yang tersisa hanya bisa digunakan untuk makan malam dan kemudian menuju hotel. Musim gugur yang menjadi peralihan antara musim panas dan musim dingin di China memang seringkali membawa hujan lebat dan angin kencang. Kekhawatiran akan cuaca buruk esok hari sempat membayangiku pada malam sebelum tidur karena hujan lebat di Hangzhou kemarin merupakan akibat angin Taifun yang bergerak dari Taiwan. Nah...sedangkan Xiamen sendiri adalah kota yang berbatasan langsung dengan Taiwan. Jadi kami seperti bergerak mendekat ke tempat dimana cuaca buruk berasal.

Bunyi dering telepon membangunkanku pada jam 6 pagi (05.00 WIB), seperti hari-hari sebelumnya, layanan wake up call yang kuminta dari hotel agar tidak tertinggal rombongan karena bangun kesiangan. Sinar matahari terlihat remang-remang menerobos tirai dan aku segera meloncat dari kasur yang empuk dan hangat menuju jendela untuk memastikan cuaca di luar. Wawww....langit tampak sangat biru dan cerah pagi ini meskipun awan yang menjadi benih Taifun masih jelas terlihat, seperti gumpalan-gumpalan kapas yang berserakan. Di bawah awan yang biru dan matahari yang bersinar terang berjajar gedung-gedung tinggi berhimpitan, baik rumah tinggal maupun perkantoran. Rumah dalam bentuk gedung-gedung bertingkat yang kita kenal di Indonesia sebagai rumah susun atau apartemen memang merupakan solusi terbaik bagi China untuk menampung jumlah penduduknya yang lebih dari satu miliar jiwa.

Sama seperti di kota-kota sebelumnya, jadwal perjalanan kami dimulai pada pukul 08.00 pagi. Sesuai itinerary perjalanan yang telah ditetapkan bahwa kami hari ini akan berwisata ke Gulangyu, Xiamen. Gulangyu adalah sebuah pulau kecil yang dihuni sekitar 20.000 ribu jiwa. Tidak ada moda transportasi bermotor di Gulangyu yang diperbolehkan. Satu-satunya moda transportasi modern hanya mobil listrik bebas asap polusi seperti yang aku tumpangi dengan tarif 10 yuan. Karena ke pulau, maka tentu saja pelabuhan menjadi tempat tujuan pertama tetapi tidak perlu waktu lama untuk mencapainya. Dalam masa puncak liburan seperti saat ini, tempat-tempat wisata di China benar-benar seperti lautan wisatawan, mereka datang dari berbagai negara termasuk kami Indonesia. Semua wisatawan yang datang ke Xiamen menjadikan Gulangyu sebagai tujuan wisata utama. Sehingga kekacauan atau suara gaduh yang timbul di ruang tunggu masuk kapal karena padatnya pengunjung dan minus pendingin udara bukan barang aneh. Antrian sudah tidak dapat dibentuk karena banyaknya wisatawan yang berjubel. Di ruang tunggu yang tertutup plus cuaca panas terik dengan pengunjung yang berjubel, jelas aku bisa mencium segala macam aroma tubuh yang basah oleh keringat. Untungnya tidak perlu waktu lama sampai ferry yang akan mengangkut wisatawan bersandar. Ketika pintu gerbang dibuka orang-orang segera berhamburan menyerbu masuk kapal ferry mencari lokasi yang enak, baik untuk duduk atau mengabadikan momen beserta pemandangannya. Meskipun aku tidak mendapatkan tempat duduk tapi tidaklah terlalu khawatir karena Gulangyu dapat dicapai hanya dalam jangka waktu 5 menit saja dari pelabuhan.

Sejarah Xiamen yang tidak lepas dari pendudukan kolonial oleh Britania meninggalkan jejak-jejaknya berupa bangunan-bangunan berciri Eropa. Gulangyu yang terkenal akan keindahannya, banyak memiliki bangunan rumah berciri arsitektur Eropa, karena dulunya Gulangyu dijadikan tempat tinggal bagi para kolonialis. Keindahan Gulangyu bak harmonisasi dari bangunan berarsitektur Eropa, hijaunya pepohonan, alunan suara ombak yang menghempas karang dan denting piano. Hahh...piano, gimana sih maksudnya? Ketika menjadi daerah kolonialisme, sekolah-sekolah yang didirikan oleh bangsa asing mengajarkan piano. Dengan cepat pula alat musik piano menjadi digemari oleh penduduk lokal Gulangyu dan sering mereka mainkan. Oleh karena itu, sampai sekarang Gulangyu juga dikenal dengan sebutan “Piano Island”. Apalagi ada beberapa pianis terkenal di China berasal dari Gulangyu. Nama Gulangyu sendiri sebenarnya juga berakar dari musik. Gu Lang dapat diartikan sebagai hentakan drum, sedangkan Yu adalah pulau kecil. Gu Lang (hentakan drum) didapatkan dari suara hempasan ombak yang menghantam karang. Musik dan alam, ehmmm...benar-benar komposisi yang bagus ya. Piano sebagai alat musik yang digemari penduduk Gulangyu juga menjadi bagian sejarah panjang pulau ini. Sebagai bagian dari sejarah maka beberapa alat musik piano dari masa ke masa diabadikan dalam sebuah Museum Piano yang berada di Gulangyu. Museum Piano ini tidak tampak seperti sebuah museum, setidaknya itulah yang terpikir di benakku ketika melihatnya dari luar. Karena memang hampir tidak ada bedanya dengan sebuah rumah dan bercat tembok putih. Tetapi ternyata didalamnya menyimpan berbagai macam jenis piano, aku pikir museum ini mungkin seperti merekam perkembangan teknologi alat musik piano. Dari yang klasik dan manual hingga yang modern namun semuanya tetap memiliki nilai seni dan sejarah masing-masing. Kalau soal nama atau merknya, wahhh sayangnya aku ngga hafal, kayak nama-nama komposer klasik Eropa gitu. Tadinya mau coba difoto satu-satu, tapi para penjaga museum yang sigap dan galak-galak kayaknya, selalu setia mengawasi gerak-gerik pengunjung. Ya...di Museum Piano Gulangyu pengunjung memang dilarang mengambil gambar dan menyentuh piano-piano tersebut.

Pepohonan yang hijau menjadi salah satu unsur keindahan alam Gulangyu. Dari beberapa hijaunya pepohonan yang tumbuh alami, beberapa diantaranya merupakan taman-taman lengkap dengan kolamnya. Salah satu taman yang ada yaitu Shuzhuang Garden, taman ini diberi nama sesuai dengan pendirinya yaitu Shuzhuang, seorang pebisnis sukses asal Taiwan. Awalnya Shuzuang Garden hanya sebuah villa pada tahun 1931 sebelum kemudian dibuka untuk umum pada tahun 1955 sebagai sebuah taman. Shuzhuang Garden dijuluki sebagai “Taman yang ada di laut atau Laut yang ada di taman” karena letaknya yang berbatasan langsung dengan laut. Salah satu landmark yang ada di Shuzhuang Garden adalah adanya sebuah batu besar bertumpuk dan bertuliskan “Laut luas dan Langit Tanpa Batas” dan juga “Merebahkan Kepala pada Ombak Laut”. Batu besar ini terlihat kontras dengan latar pemandangan laut dan kota Xiamen, makna dari tulisan tersebut juga terlihat sangat hidup karena harmonisasi yang sempurna antara keindahan hijaunya taman dan birunya laut. Shuzhuang Garden juga menjadi pintu perlintasan untuk masuk ke Museum Piano. Di pulau kecil yang berbukit-bukit terdapat sebuah bukit bebatuan setinggi 90 meter yang disebut Riguang Rock. Dari puncak Riguang Rock pengunjung bisa melihat keseluruhan Gulangyu hingga ke Xiamen. Tapi sayangnya aku bukan salah satu pengunjungnya, karena Riguang Rock tidak termasuk dalam paket perjalanan grup kami. Jadi aku hanya bisa memandang dari Shuzhuang Garden puncak Riguang Rock tanpa bisa berkata-kata. Pun demikian dengan patung Jenderal Zheng Chenggong (Koxinga), seorang Jenderal pada Dinasty Ming yang berdiri setinggi 15 meter menghadap Taiwan. Menurut sejarah, Jenderal Zheng Chenggong adalah seorang jenderal yang berhasil membebaskan Taiwan setelah 38 tahun di bawah kolonialisme Belanda, oleh sebab itu Ia berdiri menghadap Taiwan. Tetapi tur guide kami juga mengatakan Jenderal Zheng Chenggong didirikan menghadap ke Taiwan juga karena banyak Taifun yang datang dari arah Taiwan. Semacam penolak bala mungkin ya kalau disini kita menyebutnya.

Waktu menunjukan jam 11 siang ketika kami keluar dari Museum Piano, dan ini merupakan waktu bagi kami untuk kembali menyeberang ke kota Xiamen. Tapi kekacauan kecil terjadi di Gulangyu sehingga rombongan kami kehilangan waktu 2 jam atau hingga jam 1 siang karena ada dua orang yang menghilang. Bukan saja perut lapar dan tubuh lelah menjadi keluhan, tetapi juga rasa kesal hinggap di kepala. Hingga ternyata setelah dicari dan dilacak melalui telepon yang signalnya agak-agak susah ternyata mereka sudah mendahului rombongan menuju pelabuhan. “Huffhh....Ga jadi belanja lagi” begitu kira-kira kata yang keluar dari beberapa peserta. Ya memang...dengan hilangnya waktu dua jam berarti kami memang sudah tidak memiliki waktu lagi untuk berbelanja di China. Waktu yang tersisa akhirnya hanya bisa digunakan untuk makan siang yang terlambat dan berfoto-foto di tepi pantai yang tidak jauh dari restoran. Dari sini aku bisa melihat di kejauhan laut dan sebuah pulau yang membatasi langsung Xiamen dan Taiwan. Di sepanjang jalur hijau tepi pantai, banyak yang berlarian, tapi itu cuma patung koq bukan orang hehehe. Patung-patung dengan gaya berlari ini sebagai simbol dari event olahraga lari tahunan yang diselenggarakan di Xiamen. Tapi kini saatnya benar-benar bagi kami untuk berlari, karena waktu yang semakin menipis untuk menuju bandara. Inilah saat kembali ke Jakarta, kembali ke realita setelah tujuh hari yang luar biasa di China. Liburan yang tidak pernah terbayangkan, dan masih seperti mimpi bahkan ketika aku sudah kembali berada di Jakarta. (Ge)



Share On:


Baca Juga Ya Catatan Perjalananku yang Lain :



0 comments:

Post a Comment